Cinta... Cinta... Cinta... dan Cinta. Kalo bahas tentang hal ini memang asik apa lagi hubungannya dengan sara. Cinta itu mulia, cinta itu hebat, dan mempersatukan (teorinya sih) tapi pada akhirnya ketika cinta dihadapkan dengan ideologi?
Saya akan sedikit bercerita tentang perjalanan cinta saya yang super singkat karena perbedaan ideologi dalam hal kepercayaan ini. Saya terlahir sebagai kaum minoritas yang pernah kena bully waktu peristiwa '98 silam.
Tapi lahir sebagai kaum minoritas tersebut juga ternyata belum cukup karena didalam minoritas saya masih lagi menjadi minoritas (teringat minimin di dalam statistik hehehe) oke ada dua faktor yang membuat saya jadi lebih minoritas lagi... layaknya suku di indonesia didalam suku tertentu terdapat sub suku yang di kucilkan atau dipandang remeh...
Saya terlahir sebagai suku Khek dan Konghu (sialnya saya tidak bisa berbahasa kaum saya ini, karena sejak 98 di daerah saya dilarang menggunakan bahasa asal saya entah kenapa) suku Khek ini identik dan mayoritas tinggal di pulau Bangka dan sangat sangat sangat di anggap remeh oleh kaum Tionghoa... karena mungkin faktor alam bangka yang mengharuskan orang2 disana bekerja ekstra lagi untuk bertahan hidup, jadi orang bangka (kebanyakan wanita) mau melakukan apa saja demi bertahan hidup, tapi itu dulu dan masih menjadi stereotip yang melengenda sampai sekarang terutama orang Hokkian yang mendominasi .
Terlahir sebagai suku hybrid juga belum cukup untuk membuat saya jadi lebih minoritas lagi... ya karena saya menganut agama yang sekali lagi sedikit sekali dipeluk oleh bangsa Tionghoa, dan parahnya lagi tentu saja saya tidak berdoa dan mendoakan leluhur saya. Bagi bangsa Tionghoa ini adalah masalah besar karena tradisi sekali mendoakan arwah ;leluhur sebagai penghormatan dan agar arwah mereka bisa bahagia di alam baka sana. tentu saja pandangan masyarakat Tionghoa yang sangat menghormati leluhur melihat tindakan kami yang tidak memegang garu untuk menghormati leluhur dan terlebih dewa dewa dianggap sebagai tindakan yang meninggalkan ke-Tionghoa-annya walaupun tidak semua berpikiran seperti itu. Sekali lagi saya menjadi minoritas lagi.
Oke kembali ke topik.. singkat cerita saya bertemu dengan seorang gadis yang cantik, pintar dan terlebih baik hati, sampai sampai saya berpikir kalau Tuhan bisa tidak adil juga yah :p. Akhirnya setelah tahap pdkt sekian lama saya memberanikan diri saya untuk menyatakan perasaan saya kepada wanita itu.
Kami jalani kehidupan cinta dengan sangat indah, kami saling menjaga satu sama lain, peduli dan mengasihi, dan tidak pernah ribut sama sekali. Saya merasa inilah jodoh saya, walaupun ternyata kami berbeda aama saya berharap kami bisa saling mencintai dengan tulus.
Tapi tidak semuanya berjalan dengan indah, saya tidak tahu kalau ternyata dia menyembunykan fakta bahwa orang tuanya tidak setuju dengan saya karena saya berbeda agama dan tidak mendoakan arwah leluhur, beberapa kali kami berdiskusi ringan tentang pandangan agama masing-masing seperti dugaan saya bahwa sekali lagi permasalahannya adalah tidak mendoakan orang yang sudah meninggal, memang dalam sebagian agama ada upacara mengunjungi makan dan memberi penghormatan kepada yang sudah tidak ada, dan juga memanjaatkan doa agar mereka bisa berbahagia ataupun hukumannya dijadikan ringan. tapi dalam pandangan saya yang disertai sedikit logika, kalau hal ini sedikit tidak adil dan bukan merupakan ranah manusia untuk mencampuri urusan akhirat. tidak adil karena apabila yang meninggal itu hidup sendiri, atau orang-orang dijalanan yang tidak punya siapa-siapa? tidak didoakan lalu hukumannya tetap sementara ada koruptor diluar sana yang meninggal kemudian didoakan tiap hari oleh keluarganya kemudian dosanya lebih ringan? adilkah? entahlah... Kemudian juga hanya Tuhan saja yang berhak mengadili dan menghukum orang-orang yang sudah meninggal tidak ada satupun yang bisa nego dengan ketentuan ini kan? dalam agama saya lebih baik mendoakan dan menghibur keluarga yang ditinggalkan agar diberi kekuatan supaya tabah... yah bukan hak saya juga untuk menghakimi ajaran agama yang lain kan?
Hingga pada akhirnya karena ternyata dia sering dimarahi karena hubungannya dengan saya ... dan akhirnya kami berpisah, walaupun sekarang masih berteman baik.. tapi saya masih menyimpan rasa kesal, sedih, karena ternyata hanya permasalahan diatas tadi, entah mengapa saya merasa hal ini tidak adil bagi saya, sangat-sangat tidak adil, saya ingin marah tapi kepada apa? yang saya lakukan setipa hari hanyalah menyimpan kepahitan hanya karena masalah ini, entahlah mungkin saya kekanak-kanakan tapi... kenapa tidak ada kesempatan untuk saya?
mungkin ini jadi pelajaran yang menyakitkan untuk saya... tapi saya akan tetap mencintai dia walaupun hati saya sudah hancur lebur, ibu saya pernah bilang ada dua jenis orang bodoh akut, yang pertama karena cinta dan yang kedua karena pilpres (liat aja SF di kaskus *lol*)
mungkin ini jadi pelajaran yang menyakitkan untuk saya... tapi saya akan tetap mencintai dia walaupun hati saya sudah hancur lebur, ibu saya pernah bilang ada dua jenis orang bodoh akut, yang pertama karena cinta dan yang kedua karena pilpres (liat aja SF di kaskus *lol*)
mungkin saya sedang menabur karma buruk saya? entahlah...
cinta itu mempersatukan? entahlah...
entahlah...
cinta itu mempersatukan? entahlah...
entahlah...